Kaidah Dasar Sport Science - oleh Dr. Mu'arifin, M.Pd (Bagian 3)

ayotenis, Malang, 3 April 2020 - Kaidah Dasar Sport Science - oleh Dr. Mu'arifin, M.Pd (Bagian Ketiga)

Masalah yang multidispliner ini banyak dihadapi oleh negara yang belum maju olahraganya, jadi belum tersedia ahli-ahli yang spesifik seperti disebutkan pada bagian sebelumnya, yang konsen terhadap dunia olahraga. 

Berbeda dengan negara yang sudah maju olahraganya, setiap pakar itu punya nadil menyumbang terhadap bagaimana upaya meningkatkan prestasi atlit, salah satu contoh misalkan ahli fisika, ahli fisika itu kan ada ilmunya yang namanya biomekanika, nah biomekanika itu digunakan pada dunia olahraga dalam rangka untuk memperbaiki teknik gerakan seorang atlet, misalkan dalam olahraga tenis, pukulan forehand yang berkualitas itu harus seperti apa? nah tekniknya yang bener yang seperti apa? itu ada ilmu khusus namanya ilmu biomekanika. 

Belum lagi ilmu gizi, menyangkut asupan makanan dan nutrisi yang cocok bagi para atlit sebelum bertanding, selama bertanding dan sesudah bertanding, dalam rangka untuk meningkatkan recovery atau pulih asal. Pakar gizi akan memberi treatment yang tepat berupa menu makanan atau asupan nutrisi yang tepat, menyangkut hal ini ahli gizi yang berperan penuh. 

Sport medicine mengatur takaran latihan yang cocok bagi atlet mulai8 pemula hingga takaran yang tepat bagi atlet yang mengikuti turnamen dalam waktu yang lama, seperti apa menunya, program latihan dan lain sebagainya itu ada ilmu-ilmunya. 

Pada negara-negara yang sudah maju, semuanya tersedia lantaran disana untuk sport medicinesport science-nya sudah sedemikian maju, ya termasuk laboraturium-laboraturium-nya semuanya lengkap. Sementara di Indonesia hingga saat ini belum selengkap yang diharapkan, belum selengkap seperti di negara-negara maju. Di negeri kita memang baru dalam tahap memahami, tetapi belum dipraktekkan secara utuh karena secara kultur masih belum terlalu modern dalam bidang pendekatan sport sciencejadi masih lebih percaya hanya pada pelatih. Padahal pelatih tidak bisa bekerja sendiri, dia juga memerlukan pelatih lain yang khusus melatih fisik dan dia juga harus bekerja sama dengan ahli gizi didalam mengatur asupan makanannya, pelatih juga harus bekerja sama dengan ahli psikolog untuk bagaimana meningkatkan mentalitas atlit dan sebagainya. 

Di Indonesia, hal-hal yang seperti tersebut diatas belum dapat bekerja sama secara sinergis lantaran memang kulturnya masih lebih percaya ke mantan atlit yang  bertindak sebagai pelatih namun tak dibekali ilmu yang memadai. Jadi belum sampai melibatkan pakar-pakar yang lain. (bersambung kebagian keempat)


Dr. Mu’arifin, M.Pd